Seorang gadis tengah berjualan nasi pecel didepan rumahnya, sehari-hari dia berjualan nasi pecel dan gorengan untuk menyambung hidupnya dan semua itu sudah dia jalani sejak SMP.
namanya widya puspitasari atau biasa dipanggil widya, usianya 17 tahun memiliki paras yang cantik jelita dan tubuh yang sexy.
"pagi neng widya sayang....." goda salah satu pelanggannya yang setiap hari datang untuk sarapan.
"pagi pak pur"
"jangan panggil pak pur lah tapi panggil AA' "
"dih AA' " ucap salah seorang bernama markadi.
"iri bilang...."
"eh ngapain gua iri, inget lu udah punya bini udah punya anak 5, ditinggal bini jadi TKW malah godain neng widya mulu, kalo ketahuan mertua lu bisa balik miskin lagi lu"
"syuuutttt....!, udah diem gue lagi berusaha biar ada ibu kedua buat anak-anak biar ada yang urus dan gue yakin neng widya pasti mau ya kan neng" tersenyum menggoda widya memamerkan giginya yang sudah ompong yang justru terlihat menyeramkan.
"eee.....saya....."
"wid beli nasi pecel ya 5 dibungkus"
"oh nggeh buk sekedap..." widya tertolong membuat purnomo mendecak kesal.
"ah mbak jum gangguin orang lagi usaha saja"
"usaha?"
"usaha biar punya istri kedua mbak jum..."
"astaghfirullah..... rupo koyo demit ngene opo yo payu? widya bocahe ayune ngene arep dibojo menungso rupo alien" (wajah kaya demit begini emang laku? widya anaknya secantik ini mau dinikah sama manusia alien)
"hahahahaha....!!!" markadi tertawa kencang begitupun widya yang sedang mengulek bumbu kacang mencoba menahan ketawanya.
saat sedang asyik-asyiknya tiba-tiba sebuah tangan menjewer telinganya
"aduh.....siapa ini yang jewer kupingku...!?"
ternyata itu ulah anak perempuan purnomo bernama cindy seorang gadis berusia 16 tahun.
"pak ayuk pulang dicariin nenek...!"
"iya iya anakku sayang...." menyeruput kopi nya lalu memberikan uang 100.000 kepada widya
"kembaliannya ambil aja istriku cantik...."
"pak.....!" purnomo langsung lari terbirit-birit.
"mbak widya maafin bapak ya..."
"udah gpp kok cin udah biasa bapakmu itu hihihi"
saat cindy akan pergi widya menghampirinya.
"eh cin tunggu... nih kembaliannya 80.000 ribu bapak kamu tadi"
"nggak usah mbak ambil aja itu rejeki buat mbak kok"
"jangan gitulah,nih ambil" mencoba memberikannya kepada cindy
"udah mbak gak usah,ambil aja itu rejeki buat mbak widya, dan jangan ditolak "
"yaudah makasih banyak ya cin..." terimakasih widya
"hehe sama-sama mbak, yaudah tak balik dulu mari semuanya" cindy pun pulang
"ati-ati cin" ujar markadi
"nduk pesanan ibu sudah?"
"mpun dados buk, monggo" (sudah jadi buk, silahkan)
"jadinya berapa?"
"totalnya 25k buk"
"ini pisang 1 berapa?"
"1000"
"5 ya berarti 30k ya?"
"nggeh leres"
"kok pisang goreng? biasanya mendoan(tempe goreng) atau bakwan"
"bojoku luweh seneng gedang goreng nek bakwan utowo mendoan wonge orak seneng" (suamiku lebih senang pisang goreng kalo bakwan atau tempe goreng orangnya tidak suka)
"bojomu ncen aneh"
"mas mu sendiri dibilang aneh" lalu pergi
"hahaha" widya dan markadi ikut tertawa.
tinggallah markadi berdua dengan widya.
"wid"
"iya kang" balasnya lembut
markadi memperhatikan widya yang saat ini hanya memakai daster dan cardigan, menampilkan lekuk tubuh gadis itu yang sangat indah.
"kamu udah putih, bersih, manis, cantik, bodymu juga sexy gitu, rahasianya apa?"
"kalo saya sendiri sehabis sholat subuh olahraga gitu kang"
"itu doang?"
"senam pagi"
"itu aja?"
"nggeh kang, emang kenapa kang?"
"nggak nanya aja hehe" dibalas senyuman manis oleh widya
"kok kamu cuma make daster sama cardigan?"
"iya mau ganti pakaian nggak sempet kang, banyak yang beli nggak bisa ditinggal"
"yaudah gpp malah jadi lihat pemandangan gratis"
"maksudnya kang?" tanya widya dengan polosnya.
"wid kamu nggak ada keinginan buat lanjutin sekolah?" markadi mencoba mengalihkan pertanyaan
seketika wajah widya berubah sedih.
"wah mending mau orak usah takon..." - sesal markadi dalam hati
"ya mau lah kang tapi nggak punya cukup uang, apalagi masuk sma biayanya juga nggak sedikit"
"iya juga sih, berarti pendidikan terakhir kamu smp ya?"
"iya kang"
"umur kamu sekarang berapa?"
"17 kang"
"kalo-"
"widya yayang beb..." ucap seseorang memotong percakapan.
"halo kak jono"
"jon itu temen-temen lu?"
"iya kang, mereka teman sekolah jono"
"elu bolos?"
"e..ee..eng gak gak kok kang" jawabnya gugup
"lha trus apa?noh lihat jam 8, gue aduin bapak lu"
"eh ampun kang jangan.....! iye jono bolos, pas sampe jalan jono ingat ada ulangan matematika ya karena males jono kabur kesini deh, eh pas dijalan ketemu tuyul-tuyul ini jadinya kami berlima bolos yaudah jono ajak sekalian refreshing hehe"
markadi sampe geleng-geleng dengan kelakuan keponakannya ini, tanpa aba-aba keempat teman jono berebut ingin berkenalan dengan widya
"halo cantik nama saya cecep..."
"namaku asep...."
"perkenalkan namaku yono si ganteng"
"hei cantik aku udin si..."
"udah-udah kalian apa-apaan sih ingat ya nggak ada yang boleh nyentuh yayang bebeb widya kecuali jono!"
widya dibuat geleng-geleng dengan tingkah 5 cowok didepannya ini.
"dasar anak musang....." celetuk markadi
"anjir gila emang cakep banget uy, bodynya juga semok gitu" puji cecep berbisik
"iya cuy bibirnya juga uhhhh manis gitu pengen gue cipok" asep
"rambutnya juga hitam panjang sampe paha, mana bokongnya juga semok gitu aduh....jadi tegang nih burung" yono
"umurnya berapa cantik? nenen nya biar akang yang pegangin hehehe" ucap udin melihat nenen widya yang tercetak jelas dibalik cardigan nya
sontak pujian-pujian itu membuat wajah widya menjadi malu.
"DIAM...!!!" bentak markadi membuat anak-anak itu langsung terdiam, sedangkan jono anak itu berdiri dengan kaki gemeteran.
"udah semua pulang...!"
"tapi kang kalo saya pulang bisa kena amuk bapak..."
"lha salahmu sendiri bolos"
"kang hiks...hiks... tolongin jono...jono nggak mau kena marah bapak" mewek jono sedangkan teman-temannya masih diam sejak tadi, kecuali udin yang suka curi-curi kesempatan memandangi wajah cantik dan nenen besar nan montok milik widya.
"pergi kemana kek penting jangan gangguin widya"
"bentar, beb beli es teh dong, kalian semua minum apa?"
"ada apa aja?" tanya yono
"es teh,es sirup,kopi kak" balas widya
"nggak ada minuman sachet ya?" udin
"nggak ada kak"
"yaudah es teh 5 bungkus trus gorengan 20.000"
"bentar ya kak"
skip
"totalnya berapa cantik?"
"25.000 kak asep"
"jon bayar gih"
"dih sok-sokan lu ujung-ujungnya gue yang bayar"
"hehehe"
"nih 50k kembalian ambil aja ya sayang"
"eh serius kak Jon? wah makasih banyak"
merekapun langsung naik motor meninggalkan warung widya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"astaghfirullah tuh anak maen pergi aja,salam kagak, pengen gua jitak kepalanya" ucap markadi gregetan
"jangan gitu atuh kang, gitu-gitu juga ponakan akang sendiri"
"oh ya kang bagaimana kabar mbak adel dan kandungannya?"
"alhamdulilah baik dan sehat wid"
"riki gimana kabarnya?"
"alhamdulilah baik itu anak"
"widya....."
markadi menoleh dia terkejut ternyata istrinya adel yang datang.
"sayang kamu ngapain kesini?"
"mau makan nasi pecel widya mas.... tiba-tiba adek kepengen banget"
"wah dedeknya pengen nasi pecel hihihi"
"hehe iya nih wid, buatin satu ya wid jangan pedes"
"siap mbak adel"
adel duduk disamping suaminya.
"mas aku nungguin daritadi belum pulang-pulang" ucap adel cemberut
"ya maaf sayang... aku juga jagain widya apalagi tadi ada purnomo"
"hmmm orang itu lagi, demen banget gangguin widya"
"ya gimana nggak kamu lihat aja sendiri widya anaknya kaya gimana, cantik putih bersih manis gitu pasti banyak yang kepincut sama dia"
"iya sih....."
"tapi dimata aku kamu paling cantik, apalagi hamil gini kamu makin sexy" rayunya.
"ih gombal" namun berhasil membuat wajahnya merona.
"cieeee........" goda widya memberikan nasi pecel pesanan adel
"ah jangan gitu dong wid jadi malu aku hihihi"
adel makan dengan lahapnya dia sangat suka nasi pecel buatan widya, menurutnya tidak ada nasi pecel seenak buatan gadis itu.
"wid kalo ada pria yang melamar kamu mau nggak?" tanya markadi langsung dapat tatapan tajam dari istrinya.
"maksud kamu apa mas tanya gitu?"
"nggak gitu sayang kamu jangan salah faham"
"sabar mar bini lu lagi hamil"
"gini kalo widya sudah ada suami kan enak dia udah jadi tanggung jawab suaminya, karena jujur aku nggak bisa nengokin widya apalagi aku sudah berkeluarga"
widya pun terdiam, dia mengerti maksud kang markadi. markadi menatap istrinya.
"gini wid bukannya aku......"
"saya faham kok maksud kang mar, hanya saja pria mana yang mau sama gadis miskin dan cuma tamatan smp seperti saya?"
"kamu jangan gitu widya... kamu aja cantik gini pasti banyak pria yang mau sama kamu ya nggak mas?"
"betul, tapi jangan asal, pria itu harus baik dan bertanggung jawab, nggak kdrt"
"dan ganteng..." tambah adel "kamu mau kan wid sama yang ganteng-ganteng?" wajah widya sontak merona membuat adel tertawa melihat wajahnya yang lucu itu.
"ganteng doang nggak cukup yang.... tanggung jawab itu juga penting, baik hati, dan kalo bisa jangan suka maen tangan"
"emang siapa mas?"
"keknya aku kenal seorang pemuda yang cocok sama widya tapi rumahnya jauh dari sini"
"hah siapa namanya?dimana rumahnya?" tanya adel antusias.
"juragan ryan"
"hah serius!?" adel sampe kaget.
"juragan ryan?" widya belum pernah mendengarnya.
"iya tapi itu sudah 3 tahunan yang lalu, waktu itu aku berburu mencawak tiba-tiba kaki ku terperosok jurang dan tiba-tiba ada anak muda ntah asalnya darimana yang langsung megangin aku dan akupun selamat, bahkan dia sampe ngobatin luka di kakiku ini, tak hanya itu dia sampe nganterin aku sampai rumah dengan selamat ntah apakah dia masih tinggal disana atau sudah pergi soalnya dia jarang banget terlihat soalnya udah ada asistennya yaitu pak kaseno yang mengurus kebun ternak sawah dan lainnya.
"wah baik banget dia, masih muda udah jadi juragan umurnya sekarang berapa ya?"
"nggak tau tapi kalo dilihat masih muda dibawah 20 lah"
"tapi aku berani jamin wid, kalo kamu ketemu orangnya pasti kamu bakalan suka, soalnya pas waktu itu anaknya ganteng, kalo sekarang pasti makin ganteng dan gagah"
mendengar ucapan kang markadi membuat gadis itu terbayang-bayang dengan sosok yang bernama ryan, seperti apa rupanya?
selesai berbincang-bincang akhirnya markadi dan adel memutuskan untuk pulang.
"wid mbak pulang dulu ya jaga diri baik-baik kalo ada perlu apa-apa datang saja jangan sungkan assalamualaikum"
"makasih banyak mbk adel waalaikumsalam"
dan karena dagangan sudah habis semuanya widya memutuskan membersihkan warungnya dia melihat jam 9, setelah selesai kemudian mencuci baju dan menjemurnya kemudian dia kedapur.
"yah kunyit habis,daun pisang juga habis tapi enaknya beli dipasar apa cari dihutan aja ya?"
"ah dihutan aja, mandi dulu deh"
gadis cantik itupun membuka pakaiannya yang ia kenakan berupa jaket dan daster tanpa dalaman sama sekali.
ya benar tanpa dalaman sama sekali, tentu bukan tanpa alasan, itu terjadi sebelum neneknya meninggal, waktu itu si nenek yang sudah tua renta pikun dan penglihatan yang sudah rabun melihat tumpukan pakaian dalam seperti cd dan bh miliknya dan milik widya, dalam penglihatan si nenek pakaian itu sudah kotor robek-robek dan sudah tidak layak dipake lagi akhirnya dia memasukkan kedalam kardus.
widya saat itu baru selesai mandi ia penasaran dimana tumpukan pakaian dalamnya dia cari-cari tidak ketemu lalu mencari si nenek, betapa kagetnya widya melihat si nenek membakar cd dan bh nya lalu segera mengambil air untuk memadamkannya namun naas semua sia-sia bh dan cd nya sudah tidak bisa dipakai lagi, dia hanya bisa bersabar dan memeluk neneknya.
semenjak saat itu widya jarang memakai cd dan bh, awalnya risih tapi lama-lama terbiasa, malah terasa nyaman apalagi payudaranya semakin semakin besar dan kencang dan juga bokongnya yang semakin bulat semok, tapi tentu dia memakai pakaian penutup juga seperti jaket atau celana panjang.
skip setelah mandi
setelah mandi diapun memakai celana panjang dan longgar panjang sampai diatas mata kaki, dengan kaos yang mulai kekecilan dan jaket.
sampai diperkebunan pisang dia kemudian mengambil galah lalu memasang pisau di ujungnya yang sudah diikat dengan tali.
ditempat lain seorang pria baru saja tiba di kebun pisang dia sedang mencari buah pisang yang sudah siap panen, saat sudah jumpa segera dia memotong pohonnya.
widya yang sedang fokus tidak sadar ada pohon yang akan jatuh
"awas....!!!"
"aaaaaaaaa......!!!"
BRUK......!
widya merasa dirinya baik-baik saja, saat membuka matanya seorang pria menangkap pohon pisang yang hampir jatuh mengenai dirinya.
"kamu baik-baik saja?" pria itupun membalikkan tubuhnya menatap wajah widya, pandangan mata mereka saling terkunci.
10 detik
"eh e... e aku baik-baik saja kok kak" ucap widya gugup dan malu melihat wajahnya.
"oh hehe alhamdulilah"
mereka kembali diam beberapa saat.
"namamu siapa?"
"aku widya kak,kalo kakak namanya siapa?"
"namaku ryan" widya teringat cerita markadi.
"kakak juragan ryan itu kan?"
"hehe iya banyak orang yang manggil aku gitu, kok kamu tau namaku?"
"aku tau nama kakak karena kang markadi pernah cerita ke aku soal kakak, kakak kenal sama kang markadi?"
"kang markadi? iya aku kenal, aku ingat dulu bertemu dengannya saat dia berburu mencawak, tapi sudah lama sudah 3 tahun lalu, kamu kenal dia?"
"iya kak dia om aku"
"pak lek?"
"iya betul"
"maaf ya aku nggak tahu ada cewek cantik lagi ambil daun pisang"
"iya kak gpp yang penting tidak luka"
"cantik banget,manis lagi, pengen aku cipok" - batin ryan
"ganteng banget... tubuhnya juga berotot gitu"
ryan terus memandangi wajah cantik dihadapannya ini, sedangkan widya yang terus ditatap seperti itu membuat wajahnya merah merona, setelah saling pandang ryan pun membantu widya memotong daun pisang lalu mengumpulkannya, setelah selesai diapun memotong buah pisang berniat menjualnya.
"kak emang ini kebun pisang punya siapa?"
"punyaku sendiri"
"serius? kok aku baru tahu?"
"emang kamu sering ambil daun pisang disini?"
"kadang-kadang sih, tapi kok aku nggak pernah lihat kak ryan?"
"aku lebih sering dirumah, kadang berkebun kadang gembalain kambing, aku jarang keluar juga soalnya"
"kenapa gitu?"
"ntah rasanya nggak pengen aja gitu, aku lebih suka kesunyian rasanya lebih tenang gitu"
"nggak pernah bergaul?"
"pernah dong, sama teman dan sama seseorang"
"siapa kak?"
"kamu" ujarnya membuat widya jadi malu-malu.
"bisa aja"
"umur kamu berapa wid?"
"17 tahun kak, kakak sendiri?"
"wah masih bocah ya kakak 18"
"ye sama juga masih bocah"
"hehehe"
mereka akhirnya berboncengan naik sepeda, sepanjang jalan mereka terus ngobrol bahkan disepanjang jalan banyak pasang mata yang memperhatikan mereka, setelah sampai ryan mengunjungi orang yang biasa membeli pisangnya.
"bang nih pisangnya"
"weh elu yan, gue cek dulu"
"120.000 gimana?"
"yaudah gpp"
"ok nih" memberikan uang 120.000
"yaudah mari-"
"eh bentar-bentar..." potongnya cepat
"ada apa?"
"tuh cewek siapa cuy cakep bener putih mulus gitu?"
"cewek gua bang"
"ah yang bener lu? mending buat gua aja elu cari lain aja kan elu cakep mana masih muda"
"ah enak aja... nggak... nggak.... nggak..."
"ah elu mah..."
"duluan bang" ryan menghampiri widya dan kembali memboncengnya.
"dadah cantik....." langsung dapat plototan tajam dari ryan.
"tuh bocah kagak pernah kenal cewek sekalinya dapet cakep banget gitu bening lagi wah wah wah"
##################
"kak kerumah aku ya sekalian makan siang"
"gpp nih?"
"gpp kok"
mereka menuju rumah widya.
"oh ini rumah kamu"
"iya kak"
"kamu jualan apa kok ada meja dan bekas bumbu minyak gini?"
"aku jualan nasi pecel dan gorengan juga"
"wah kayaknya enak tuh boleh dong hehehe"
"aduh maaf udah habis, telur goreng sama tumis kangkung gimana?"
"wah boleh tuh"
"tunggu ya"
"siap cintaku"
sontak pipi widya kembali merah merona jantungnya juga berdegup kencang
"kok jantung aku berdegup kencang gini ya?" - widya
dia melihat wajah tampan ryan dan tersenyum manis lalu kebelakang menyiapkan makan siang.
"jantungku kok berdebar-debar gini ya?" - ryan
setelah selesai memasak mereka berdua menyantap makan siang terutama ryan dia makan begitu lahap ntah dirinya yang kelaparan atau memang masakan widya yang sangat enak.
"alhamdulilah kenyang, masakan kamu enak banget wid, malah sampe habis lauk sama sayur tumis kamu maaf ya hehehe"
"gpp kok kak aku malah seneng kak ryan menghabiskan masakan aku"
widya membereskan piring dan wajan dan mencucinya hingga bersih kemudian menyusul ryan berduaan didepan rumah widya.
"lha nenek kamu dimana?"
"beliau sudah tiada" dengan wajah sedih
"maaf wid aku nggak tahu"
"gpp kok kak"
"jadi kamu hidup sendirian dong?"
"nggak juga masih ada keponakan nenek kang markadi dan kang masudi"
"lha nenek kamu nggak punya anak?"
"akan kuceritakan kepadamu, nenekku namanya mirna beliau memiliki adik kembar bernama marni, nenek mirna memiliki 5 orang anak 1 sudah berkeluarga dan 4 masih kerja dan mereka tinggal diluar negeri, hingga suatu hari mereka mengalami kecelakaan kereta dan menyebabkan semua anaknya cucu dan menantunya meninggal dunia, beliau sangat sedih dan sangat terpukul, dan setahun kemudian pada suatu hari dia melihat seorang wanita cantik berambut panjang meletakkan seorang bayi perempuan didepan rumahnya, nenek mirna mencoba mengejarnya tapi wanita itu langsung lari dan tak pernah terlihat lagi"
"jadi kamu...?"
"iya bayi itu adalah aku dan..... hiks...hiks..." widya tak kuasa menahan air matanya, ryan langsung memeluk menenangkannya.
"sudah sudah kalo kamu nggak kuat cerita gpp"
setelah selesai menangis dan kembali tenang widya kembali bercerita.
"nenek mirna pernah cerita kalo dia yakin yang menaruh aku didepan rumahnya adalah ibu kandngku soalnya kata nenek wajahku sangat mirip dengan wajahnya, selain itu ada pesan tertulis kalo ibuku terpaksa melakukan itu karena ayahku hendak membunuh kami berdua dan berpesan supaya aku diberi nama widya puspitasari"
"kami berdua? berarti kamu punya saudara dong"
"kemungkinan iya tapi aku tidak tau apakah dia adikku atau kakakku tapi aku selalu berdoa mereka selalu dalam keadaan sehat wal afiat dan semoga kami bisa bertemu lagi"
"aamiin yang sabar ya" dan mereka berpelukan.
lama mereka diam saling pandang dan saling melempar senyum ryan mencoba bertanya sesuatu.
"eee kalo nenek marni anaknya siapa saja?"
"pak sumadi dan adiknya kang markadi"
"oh baru tau aku kang markadi adiknya pak sumadi"
"pak sumadi sudah berkeluarga istrinya namanya bu jumiaseh atau biasa dipanggil bu jum, mereka punya 2 anak, anaknya yang pertama sudah SMA namanya jono dan adiknya rika kelas 5 SD, kalo jono suka kesini untuk beli nasi pecel kadang juga godain aku hehe"
ntah kenapa mendengar pria lain yang menggoda atau mencoba mendekati widya ryan merasa tidak suka.
"apa aku cemburu ya?" - batin ryan
"oh jono"
"kamu kenal jono?"
"kenal kadang ngajakin maen bola juga, berarti jono sepupu kamu dong?"
"iya, cuma bukan sepupu kandung"
"kalo kang markadi?"
"dia juga sudah berkeluarga sudah memiliki anak namanya diki usianya 10 tahun dan sekarang istrinya tengah hamil anak kedua, tapi mereka baik banget kok sama aku"
"oh gitu ya, kamu masih sekolah kah?"
"hmmm enggak, aku cuma sampai SMP"
"kenapa nggak lanjut SMA?"
"nggak ada uangnya" jawabnya sendu
"kalo kak ryan?"
"aku nggak lanjut sekolah juga"
"lho kenapa? apakah sama kaya aku?"
"oh nggak cuma..... aku merasa bosan aja, waktu kelas 1 SMA baru 3 bulanan aku memutuskan keluar nggak menuntaskan sekolah aku hehehe"
widya terkejut mendengarnya.
"kok kak ryan gitu sih? banyak lho kak di luaran sana pengen melanjutkan pendidikan sampai tamat seperti aku... aku kalo diposisi kak ryan aku nggak bakalan menyia-nyiakan kesempatan kak..... issh...." cemberut widya
"dia kalo cemberut wajahnya jadi imut gitu jadi pengen gua cipok hahaha"
"yah gimana ya rasanya kek bosan aja gitu"
"tapi kan yang namanya pendidikan tetap penting kak.... hmpfffft.........ah......"
tiba-tiba ryan melumat bibir manis widya penuh nafsu, tangannya juga berhasil membuka jaketnya dan meremas-remas payudara besar widya penuh nafsu sedangkan widya memukul-mukul dadanya mencoba melepaskan ciuman ryan.
"aahh...hahhh.....hahhhhhh......hahh.... kak..."
"bibirmu manis sayang......nenenmu juga besar montok kencang padat"
"kak apa yang kamu lakukan ahh......." desah widya payudaranya kembali diremas dadi luar bajunya.
"ntah kenapa tapi rasanya aku suka sama kamu widya aku sepertinya jatuh cinta sama kamu, aku tau kita baru saja jumpa kita baru saja kenal tapi perasaan ini tidak bisa bohong, aku mencintaimu widya"
"a aku...aku juga sama kak.... aku suka padamu aku cinta kamu kam ryan hiks.....hiks....."
mereka saling berpelukan erat menyalurkan perasaan yang baru tercipta.
"i love you widya"
"i love you mas ryan"
mereka kembali berciuman.
setelah kejadian itu mereka selalu berjumpa, hampir setiap hari ryan datang kerumah widya, orang-orang pun mulai mengetahui hubungan mereka berdua, ada yang senang ada pula yang tidak senang seperti purnomo usahanya untuk memiliki widya gagal karena gadis itu sudah memiliki kekasih seorang juragan muda yang terkenal, dan jono, anak itu menangis selama 3 hari dan sekarang sedang ditenangkan oleh widya.
"kak jono jangan nangis terus dong.... nggak kasihan sama bapak ibu kakak?"
"habis beb widya udah punya pacar gimana aku nggak sedih huaaa.....!!!"
ryan yang mendengarnya hanya mendengus kesal dengan wajah ditekuk.
"udah yan nggak usah cemburu gitu hahaha" tawa markadi
"biasa aja kok kang....." jawabnya jutek membuat markadi makin tertawa.
sedangkan dihadapannya jono masih terus menangis tangannya tak lepas menggenggam tangan widya.
"huaaa............!!!!!" tangis jono makin kencang orangtuanya juga makin dibuat panik.
"nduk tolongin jono nduk......" mohon bu jum.
dengan sabar dan lembut widya kembali menenangkan jono.
"udah udah dong kak...jangan nangis terus kasihan bapak ibu kak jono dari kemarin khawatir, apalagi kak jono belum makan berhari-hari"
"aku nggak mau makan....aku maunya bebeb widya...!!! huaaaa!!!" tangisnya kian keras.
"kak jono nggak bisa begini terus, ingat masa depan kakak masih panjang..... kakak pernah cerita kan punya cita-cita pengen jadi pilot"
seketika tangis jono mereda.
"pilot?"
"iya kakak pernah cerita gitu sama widya kalo kak jono mau jadi pilot dan mau ngajak orangtua dan dek rika keluar negeri kan?"
jono melihat orangtuanya dan adiknya yang sedari kemarin terus mengkhawatirkan nya.
"nah sekarang kakak makan dulu ya, dari kemarin lho kakak belum makan"
"suapin"
"makan dulu ya cah ganteng" tawar ibunya
"sama bebeb widya"
"sabar ryan sabar.... tenangkan dirimu..." - batin ryan
ryan berusaha menenangkan dirinya melihat widya menyuapi jono dengan sabar hingga habis.
"alhamdulilah habis hore....."
jono kembali tersenyum dan orangtuanya merasa senang bahkan adiknya rika memeluknya.
"apakah kita bisa berteman?"
"tentu dong kak, kenapa nggak"
"boleh nggak jono minta dicium?"
ryan makin dibuat geram mendengarnya dibiarin makin ngelunjak itu anak, tangannya sudah mengepal ingin rasanya dia menghajar jono saat ini juga.
"tenangkan dirimu yan..." bisik markadi mencoba menenangkan ryan.
widya menatap wajah ryan, sontak ryan membuang muka lalu mengangguk kecil.
CUP.....
"ahhh.... makasih banyak ya bebeb widya, sekarang kak jono ikhlas bebeb widya sama bang ryan"
"makasih ya kak jono, semoga kak jono dapat yang mau mencintai kak jono dengan tulus"
"hehehe makasih beb....."
"kok manggilnya masih beb nak?" tanya ibunya
"lebih nyaman aja buk hehehe"
"hah kamu ini bikin panik bapak ibumu, lihat itu adekmu dia sampe khawatir sama kamu"
"kakak......" peluk adiknya rika
"maafin kakak ya dek....."
akhirnya semua kembali normal mereka pun saling ngobrol ryan pun mengenalkan diri kepada keluarganya jono.
TO BE CONTINUED...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar